October 10, 2008

1839-1841: Kegagalan Inggris di Afghanistan

THE MIRRORED ENEMY

Pada bulan Juni 1838, Lord Auckland, Gubernur Jenderal Inggris di India mengadakan pertemuan dengan para petingginya untuk membicarakan rencana invansi ke Afghanistan. Auckland dan beberapa menteri Inggris lainnya semakin memperhatikan berkembangnya pengaruh Rusia di wilayah tersebut. Rusia telah membuat persekutuan dengan Persia, dan sekarang mereka mencoba melakukan hal yang sama dengan Afghanistan, dan jika mereka berhasil, posisi Inggris di India akan terancam dan rentan terhadap serangan mendadak oleh Rusia. Daripada mencoba melakukan hal seperti yang dilakukan Rusia dan menegosiasikan persekutuan dengan pemimpin Afghan, Dost Mohamed, Auckland justru mengajukan ide yang menurut dia adalah sebuah solusi yang paling meyakinkan yaitu menyerang Afghanistan dan memunculkan pemimpin baru- Shah Soojah, mantan pemimpin Afghan yang digulingkan dari kekuasaan 25 tahun lalu- yang kemudian akan merasa berhutang budi kepada Inggris.

Seseorang yang mendengarkan Auckland saat itu adalah William Macnaghten, 45 tahun, seorang chief secretary pemerintah Inggris di Calcutta. Macnaghten berpikir bahwa invansi adalah sebuah ide yang cemerlang: Afghanistan yang bersahabat akan mengamankan kepentingan Inggris di wilayah tersebut dan membantu penyebaran pengaruh Inggris. Tentara Inggris tidak akan menemui kesulitan mempengaruhi orang-orang Afghan; mereka akan memperkenalkan diri mereka sebagai liberator, membebaskan Afghanistan dari tirani Rusia dan membawa ke negara tersebut sebuah dukungan dan pengaruh civilizing of England. Segera setelah Shah Soojah berkuasa, tentara akan meninggalkan Afghan, agar pengaruh Inggris yang sedemikian besar terhadap shah, tidak terlihat di mata masyarakat Afghan. Ketika Macnaghten mendapat kesempatan untuk memberikan pendapatnya mengenai rencana invansi, dukungannya terhadap rencana tersebut sangat besar dan antusias sehingga Lord Auckland tidak hanya memutuskan untuk meneruskan rencana invansi, dia juga memberi Macnaghten sebuah jabatan di Kabul, ibukota Afghan, pejabat tertinggi pada perwakilan Inggris di Afghanistan.

Dengan menemui sedikit kesulitan, pada bulan Agustus 1839 tentara Inggris berhasil memasuki Kabul. Dost Mohamed diasingkan ke pegunungan dan shah dibawa masuk ke kota. Bagi penduduk lokal, hal ini menjadi pemandangan aneh. Shah Soojah yang sebagian besar tidak mengingatnya, kelihatan tua dan tunduk disamping Macnaghten, yang memasuki Kabul dengan mengenakan seragam berwarna cerah dengan topi yang dihiasi bulu burung unta. Mengapa orang-orang ini datang? Apa yang mereka lakukan disini?

Dengan kembalinya shah menduduki kekuasaan, Macnaghten harus menilai kembali situasi yang ada. Laporan yang datang menginformasikannya bahwa Dost Mohamed sedang menyusun kekuatan di pegunungan utara. Sementara itu, di selatan, saat tentara Inggris memasuki wilayah Afghan, mereka menghina beberapa kepala suku setempat dengan merampas tanah-tanah mereka untuk mendapatkan makanan. Para kepala suku ini kemudian justru menimbulkan kesulitan. Juga menjadi jelas bahwa ternyata shah dengan status mantan pemimpin Afghan ternyata tidak populer di masyarakat, sedemikian tidak populernya sampai Macnaghten tidak dapat meninggalkannya dan kepentingan Inggris lainnya di negara Afghanistan menjadi tidak terlindungi. Dengan agak sungkan Macnaghten terpaksa meminta sebagian besar tentara Inggris untuk tetap berada di Afghanistan sampai situasi stabil.

Waktu berjalan dan akhirnya Macnaghten memutuskan untuk mengijinkan petugas dan tentara untuk mendatangkan keluarga mereka sehingga kehidupan tidak akan begitu kejam bagi mereka yang terlalu lama bertugas menduduki Afghanistan. Segera setelah itu, para istri dan anak-anak mereka datang ke Afghanistan beserta orang Indian yang menjadi pelayan mereka. Tetapi saat Macnaghten membayangkan bahwa kedatangan keluarga tentara akan berdampak humanizing dan civilizing, bagi orang Afghan justru merupakan sebuah tanda bahaya. Apakah Inggris berencana untuk menduduki selamanya? Di setiap tempat orang-orang lokal melihat perilaku orang-orang dari perwakilan kepentingan Inggris, mereka berbicara keras di jalan, minum anggur, nonton bioskop dan menunggang kuda, kegemaran aneh yang didatangkan dan diperkenalkan ke negara tersebut. Dan kemudian banyak keluarga tentara Inggris yang didatangkan ke Afghanistan. Kebencian akan segala sesuatu yang berbau Inggris pun mulai tumbuh.

Sebenarnya sudah ada yang memperingatkan Macnaghten tentang hal ini, tetapi Macnaghten selalu memberikan jawaban yang sama: segala sesuatu akan dilupakan dan dimaafkan saat tentara Inggris nanti meninggalkan Afghanistan. Orang-orang Afghan itu seperti anak kecil, orang-orang yang emosional; sekali mereka merasakan keuntungan dari English civilization, mereka akan sangat berterima kasih. Tetapi ada satu hal yang mengkhawatirkan sang utusan: pemerintah Inggris tidak gembira dengan meningkatnya biaya pendudukan. Macnaghten harus melakukan sesuatu untuk memangkas biaya dan dia tahu darimana harus mulai.

Sebagian besar dari pegunungan yang merupakan jalur utama perdagangan dijaga oleh suku Ghilzye selama bertahun-tahun, melebihi masa kekuasaan dari setiap pemimpin Afghanistan. Mereka dibayar untuk menjaga agar jalur tersebut tetap terbuka. Macnaghten memutuskan untuk memotong separo pembayaran ini. Suku Ghilzye merespon dengan memblokade jalur dan semua suku di negara tersebut bersimpati dengan pemberontakan suku Ghilzye. Macnaghten mencoba untuk meredam pemberontakan ini tetapi dia tidak melakukannya dengan serius dan petugas yang memberitahunya untuk merespon lebih kuat justru ditegur karena bereaksi berlebihan. Tentara Inggris sudah dipastikan harus tetap tinggal.

Situasi semakin memburuk. Bulan Oktober 1841 terjadi penyerangan dan pembunuhan terhadap rumah seorang pegawai Inggris. Di Kabul, para pemimpin lokal mulai berkomplot untuk mengusir pemimpin mereka yang pro Inggris. Shah Soojah panik. Selama beberapa bulan dia memohon Macnaghten untuk membiarkannya menangkap dan membunuhnya pesaingnya, sebuah cara tradisional pemimpin Afghan untuk mengamankan posisinya. Macnaghten memberitahu shah bahwa sebuah negara yang beradab tidak menggunakan pembunuhan untuk menyelesaikan masalah politik. Shah memahami bahwa orang Afghan menghargai kekuatan dan kekusaan, bukan nilai-nilai peradaban; bagi orang Afghan kegagalan shah menangani musuh-musuhnya menjadikan dirinya kelihatan lemah dan tidak memiliki kekuasaan dan membuat dirinya terkepung oleh musuh. Tetapi Macnaghten tidak akan mendengarkannya.

Pemberontakan telah menyebar dan sekarang Macnaghten harus menghadapi kenyataan bahwa dia tidak memiliki kekuasaan untuk menumpas pemberontakan. Tetapi mengapa dia harus panik? Orang-orang Afghan dan para pemimpinnya adalah orang-orang polos; dia akan mendapatkan kembali kepercayaan. Macnaghten kemudian merundingkan sebuah perjanjian dimana pasukan Inggris termasuk warganegara Inggris akan meninggalkan Afghanistan, dan dilain pihak orang-orang Afghan akan mendukung mundurnya Inggris dengan makanan. Secara diam-diam, Macnaghten memberitahu beberapa pemimpin penting Afghan bahwa dia akan menjadikan salah satu dari mereka menjadi perdana menteri dan memberinya uang sebagai pertukaran untuk menghentikan pemberontakan dan mengijinkan Inggris untuk tetap tinggal.

Pemimpin suku Ghilzyes kawasan timur, Akbar Khan, merespon penawaran tersebut, dan pada tanggal 23 Desember 1841, Macnaghten keluar untuk sebuah pertemuan rahasia dengan Akbar Khan untuk melakukan perundingan. Setelah saling bertukar salam Akbar bertanya pada Macnaghten apakah dia ingin tetap melaksanakan pengkhianatan seperti yang direncanakan. Macnaghten dengan gembira menjawab “ya”. Tanpa penjelasan apapun, Akbar mengisyaratkan orang-orangnya untuk menangkap Macnaghten dan memasukkannya ke dalam penjara-dia tidak berminat untuk mengkhianati pemimpin suku lainnya. Dengan kemarahan orang Afghan yang telah terbentuk bertahun-tahun, Macnaghten pun harus menerima nasib yang sangat mengenaskan. Badan dan kepalanya diarak di sepanjang jalanan kota Kabul dan kemudian tubuhnya digantung di pasar.

Segala sesuatu segera berubah. Pasukan Inggris yang masih tersisa dipaksa untuk segera mundur dari Afghanistan, meskipun saat itu sedang musim dingin. Karena yakin Inggris tidak akan pernah mundur jika tidak dipaksa, orang-orang Afghan pun menyerang mereka tanpa ampun. Banyak orang-orang sipil dan tentara Inggris yang tewas di salju.

Pada tanggal 13 Januari 1842, pasukan Inggris di benteng Jalalabad melihat seekor kuda berusaha memasuki gerbang dengan penunggangnya yang sedang sekarat. Dia adalah Dr. William Brydon, satu-satunya orang yang selamat dari kegagalan invasi Inggris di Afghanistan.


1 comment:

DEDI RUSTANDI said...

Tararengkyu boss..., tetap semangat... Tandirus