Showing posts with label Intelligence and National Security. Show all posts
Showing posts with label Intelligence and National Security. Show all posts

October 15, 2008

Strategi Perusahaan Nasional

GUDANG GARAM = Pria sejati

PT Gudang Garam Tbk dengan tagline “Finest Clove Cigarettes” ingin membuktikan kepada konsumen dan khalayak umum bahwa mereka menguasai panga pasar rokok terbesar di Indonesia karena mereka memproduksi rokok kretek dengan campuran tembakau dan cengkeh bermutu tinggi yang kekuatan dan kemantapan rasa dan aromanya sangat khas dan cocok dengan keinginan para pria.

Market utama yang dituju rokok Gudang Garam adalah para pria dengan definisi pria sejati, berkepribadian kuat, modern dan yang terpenting mengerti arti kenikmatan rokok sesungguhnya. Sehingga dalam iklan-iklannya Gudang Garam kerap memunculkan sosok pria macho yang suka berpetualang dengan dibumbuhi keywords.. “Pria Punya Selera” atau “Selera Pemberani”.

Untuk memperkuat brandvaluenya di mata masyarakat dan menancapkan imagenya, Gudang Garam banyak mensponsori beberapa kegiatan di olahraga otomotif seperti rally mobil, motocross, offroad; olahraga tinju; siaran langsung sepakbola di TV atau festival musik rock.

Dengan citarasa dan aroma rokok yang khas serta image yang melekat kuat di masyarakat, tidak mengherankan apabila Gudang Garam memiliki banyak konsumen loyal di Indonesia.


NYONYA MENEER = Pewaris tradisi jamu jawa asli

PT Nyonya Meneer punya motto “Tradisi terbaik untuk kesehatan dan kecantikan”. Dengan motto ini Nyonya Meneer ingin menegaskan kepada masyarakat bahwa sebagai jamu tradisional, jamu produksi mereka telah diakui sangat lama sejak tahun 1919. Merekalah sang pewaris nenek moyang dalam menjaga tradisi kesehatan dan kecantikan. Hal ini didukung dengan konsistensi logo yang sangat lama, dilihat dari konsistensi gambar potret Nyonya Meneer, tulisan tahun dan keyword “Jamu Jawa Asli” di sebagian besar produk, board toko jamu atau reklame.

Image jamu Nyonya Meneer di masyarakat sangat melekat sebagai jamu yang sudah lama ada di Indonesia dan masih bertahan sampai dengan sekarang. Akibatnya jamu Nyonya Meneer lebih diasosiasikan kepada konsumen yang mempunyai tradisi minum jamu sudah lama atau cenderung ke konsumen strata orang tua. Dan dalam hal beriklan di TV misalnya, Nyonya Meneer lebih memilih acara yang banyak ditonton orang dewasa seperti dialog politik dan ekonomi. Amurat, produk yang sekarang sedang diandalkan PT Nyonya Meneer juga menyeser segmen orang tua, dengan bintang iklan Tukul Arwana untuk menarik perhatian. Tetapi sebagaimana halnya Gudang Garam, jamu Nyonya Meneer juga mempunyai banyak konsumen loyal di Indonesia.


MUSTIKA RATU = Puteri Keraton

PT Mustika Ratu punya tagline “Dari balik dinding kraton mencuat ke mancanegara”. Modal utama dari tagline ini, Pertama dari keberadaan Mooryati Soedibyo, Presiden Direktur, yang merupakan anggota keluarga Keraton Kasunanan Surakarta. Dengan tagline ini Mustika Ratu mengklaim bahwa semua produk mereka terbuat dari bahan alami dan diramu sesuai resep leluhur yang diwariskan turun temurun di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat, atau dengan kata lain seperti yang selama ini digunakan oleh puteri keraton. Kedua, Mustika Ratu memegang lisensi penyelenggaraan kontes Putri Indonesia dan kedatangan Miss Universe ke Indonesia. Hal kedua inilah yang meningkatkan brandvalue termasuk image Mustika Ratu karena produk-produknya tidak hanya digunakan oleh ratu kecantikan di Indonesia tetapi juga oleh ratu sejagat. Secara tidak langsung produk-produk Mustika Ratu menjadi lebih gampang dikomunikasikan, tidak hanya di Indonesia tetapi sampai ke mancanegara.

Selain memiliki banyak varian produk, Mustika Ratu juga mempunyai market remaja dan wanita dewasa sehingga dalam iklan mereka menggunakan tema keywords yang berbeda. Untuk wanita dewasa, iklan Mustika Ratu ingin menyampaikan pentingnya kecantikan tidak hanya dari luar tetapi juga dari dalam. Sedangkan untuk remaja, iklan Mustika Ratu ingin menyampaikan pentingnya produk mereka dalam urusan cinta.


MASPION = Nasionalisme

Kata Maspion bisa merupakan singkatan dari kalimat Mengajak anda selalu percaya industri olahan Indonesia atau Master of Champion menurut versi Alim Markus, Presiden Direktur Maspion.. PT Maspion sendiri punya tagline “Indonesia’s Achievement”. Semangat nasionalisme yang ingin disasar oleh Maspion. Mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai produk-produk buatan bangsa sendiri. Apalagi Alim Markus dan Maspionnya mempunyai misi bersaing dan mengalahkan produk-produk impor. Sehingga sangat wajar apabila dalam iklannya Maspion memilih keywords “Cintailah produk-produk dalam Indonesia”. Iklan ini bahkan dibintangi langsung oleh Alim Markus. Dengan logat khas Tionghoa, keyword dan iklan ini menjadi gampang diingat, dan pesannya pun mengena di masyarakat.


October 10, 2008

1839-1841: Kegagalan Inggris di Afghanistan

THE MIRRORED ENEMY

Pada bulan Juni 1838, Lord Auckland, Gubernur Jenderal Inggris di India mengadakan pertemuan dengan para petingginya untuk membicarakan rencana invansi ke Afghanistan. Auckland dan beberapa menteri Inggris lainnya semakin memperhatikan berkembangnya pengaruh Rusia di wilayah tersebut. Rusia telah membuat persekutuan dengan Persia, dan sekarang mereka mencoba melakukan hal yang sama dengan Afghanistan, dan jika mereka berhasil, posisi Inggris di India akan terancam dan rentan terhadap serangan mendadak oleh Rusia. Daripada mencoba melakukan hal seperti yang dilakukan Rusia dan menegosiasikan persekutuan dengan pemimpin Afghan, Dost Mohamed, Auckland justru mengajukan ide yang menurut dia adalah sebuah solusi yang paling meyakinkan yaitu menyerang Afghanistan dan memunculkan pemimpin baru- Shah Soojah, mantan pemimpin Afghan yang digulingkan dari kekuasaan 25 tahun lalu- yang kemudian akan merasa berhutang budi kepada Inggris.

Seseorang yang mendengarkan Auckland saat itu adalah William Macnaghten, 45 tahun, seorang chief secretary pemerintah Inggris di Calcutta. Macnaghten berpikir bahwa invansi adalah sebuah ide yang cemerlang: Afghanistan yang bersahabat akan mengamankan kepentingan Inggris di wilayah tersebut dan membantu penyebaran pengaruh Inggris. Tentara Inggris tidak akan menemui kesulitan mempengaruhi orang-orang Afghan; mereka akan memperkenalkan diri mereka sebagai liberator, membebaskan Afghanistan dari tirani Rusia dan membawa ke negara tersebut sebuah dukungan dan pengaruh civilizing of England. Segera setelah Shah Soojah berkuasa, tentara akan meninggalkan Afghan, agar pengaruh Inggris yang sedemikian besar terhadap shah, tidak terlihat di mata masyarakat Afghan. Ketika Macnaghten mendapat kesempatan untuk memberikan pendapatnya mengenai rencana invansi, dukungannya terhadap rencana tersebut sangat besar dan antusias sehingga Lord Auckland tidak hanya memutuskan untuk meneruskan rencana invansi, dia juga memberi Macnaghten sebuah jabatan di Kabul, ibukota Afghan, pejabat tertinggi pada perwakilan Inggris di Afghanistan.

Dengan menemui sedikit kesulitan, pada bulan Agustus 1839 tentara Inggris berhasil memasuki Kabul. Dost Mohamed diasingkan ke pegunungan dan shah dibawa masuk ke kota. Bagi penduduk lokal, hal ini menjadi pemandangan aneh. Shah Soojah yang sebagian besar tidak mengingatnya, kelihatan tua dan tunduk disamping Macnaghten, yang memasuki Kabul dengan mengenakan seragam berwarna cerah dengan topi yang dihiasi bulu burung unta. Mengapa orang-orang ini datang? Apa yang mereka lakukan disini?

Dengan kembalinya shah menduduki kekuasaan, Macnaghten harus menilai kembali situasi yang ada. Laporan yang datang menginformasikannya bahwa Dost Mohamed sedang menyusun kekuatan di pegunungan utara. Sementara itu, di selatan, saat tentara Inggris memasuki wilayah Afghan, mereka menghina beberapa kepala suku setempat dengan merampas tanah-tanah mereka untuk mendapatkan makanan. Para kepala suku ini kemudian justru menimbulkan kesulitan. Juga menjadi jelas bahwa ternyata shah dengan status mantan pemimpin Afghan ternyata tidak populer di masyarakat, sedemikian tidak populernya sampai Macnaghten tidak dapat meninggalkannya dan kepentingan Inggris lainnya di negara Afghanistan menjadi tidak terlindungi. Dengan agak sungkan Macnaghten terpaksa meminta sebagian besar tentara Inggris untuk tetap berada di Afghanistan sampai situasi stabil.

Waktu berjalan dan akhirnya Macnaghten memutuskan untuk mengijinkan petugas dan tentara untuk mendatangkan keluarga mereka sehingga kehidupan tidak akan begitu kejam bagi mereka yang terlalu lama bertugas menduduki Afghanistan. Segera setelah itu, para istri dan anak-anak mereka datang ke Afghanistan beserta orang Indian yang menjadi pelayan mereka. Tetapi saat Macnaghten membayangkan bahwa kedatangan keluarga tentara akan berdampak humanizing dan civilizing, bagi orang Afghan justru merupakan sebuah tanda bahaya. Apakah Inggris berencana untuk menduduki selamanya? Di setiap tempat orang-orang lokal melihat perilaku orang-orang dari perwakilan kepentingan Inggris, mereka berbicara keras di jalan, minum anggur, nonton bioskop dan menunggang kuda, kegemaran aneh yang didatangkan dan diperkenalkan ke negara tersebut. Dan kemudian banyak keluarga tentara Inggris yang didatangkan ke Afghanistan. Kebencian akan segala sesuatu yang berbau Inggris pun mulai tumbuh.

Sebenarnya sudah ada yang memperingatkan Macnaghten tentang hal ini, tetapi Macnaghten selalu memberikan jawaban yang sama: segala sesuatu akan dilupakan dan dimaafkan saat tentara Inggris nanti meninggalkan Afghanistan. Orang-orang Afghan itu seperti anak kecil, orang-orang yang emosional; sekali mereka merasakan keuntungan dari English civilization, mereka akan sangat berterima kasih. Tetapi ada satu hal yang mengkhawatirkan sang utusan: pemerintah Inggris tidak gembira dengan meningkatnya biaya pendudukan. Macnaghten harus melakukan sesuatu untuk memangkas biaya dan dia tahu darimana harus mulai.

Sebagian besar dari pegunungan yang merupakan jalur utama perdagangan dijaga oleh suku Ghilzye selama bertahun-tahun, melebihi masa kekuasaan dari setiap pemimpin Afghanistan. Mereka dibayar untuk menjaga agar jalur tersebut tetap terbuka. Macnaghten memutuskan untuk memotong separo pembayaran ini. Suku Ghilzye merespon dengan memblokade jalur dan semua suku di negara tersebut bersimpati dengan pemberontakan suku Ghilzye. Macnaghten mencoba untuk meredam pemberontakan ini tetapi dia tidak melakukannya dengan serius dan petugas yang memberitahunya untuk merespon lebih kuat justru ditegur karena bereaksi berlebihan. Tentara Inggris sudah dipastikan harus tetap tinggal.

Situasi semakin memburuk. Bulan Oktober 1841 terjadi penyerangan dan pembunuhan terhadap rumah seorang pegawai Inggris. Di Kabul, para pemimpin lokal mulai berkomplot untuk mengusir pemimpin mereka yang pro Inggris. Shah Soojah panik. Selama beberapa bulan dia memohon Macnaghten untuk membiarkannya menangkap dan membunuhnya pesaingnya, sebuah cara tradisional pemimpin Afghan untuk mengamankan posisinya. Macnaghten memberitahu shah bahwa sebuah negara yang beradab tidak menggunakan pembunuhan untuk menyelesaikan masalah politik. Shah memahami bahwa orang Afghan menghargai kekuatan dan kekusaan, bukan nilai-nilai peradaban; bagi orang Afghan kegagalan shah menangani musuh-musuhnya menjadikan dirinya kelihatan lemah dan tidak memiliki kekuasaan dan membuat dirinya terkepung oleh musuh. Tetapi Macnaghten tidak akan mendengarkannya.

Pemberontakan telah menyebar dan sekarang Macnaghten harus menghadapi kenyataan bahwa dia tidak memiliki kekuasaan untuk menumpas pemberontakan. Tetapi mengapa dia harus panik? Orang-orang Afghan dan para pemimpinnya adalah orang-orang polos; dia akan mendapatkan kembali kepercayaan. Macnaghten kemudian merundingkan sebuah perjanjian dimana pasukan Inggris termasuk warganegara Inggris akan meninggalkan Afghanistan, dan dilain pihak orang-orang Afghan akan mendukung mundurnya Inggris dengan makanan. Secara diam-diam, Macnaghten memberitahu beberapa pemimpin penting Afghan bahwa dia akan menjadikan salah satu dari mereka menjadi perdana menteri dan memberinya uang sebagai pertukaran untuk menghentikan pemberontakan dan mengijinkan Inggris untuk tetap tinggal.

Pemimpin suku Ghilzyes kawasan timur, Akbar Khan, merespon penawaran tersebut, dan pada tanggal 23 Desember 1841, Macnaghten keluar untuk sebuah pertemuan rahasia dengan Akbar Khan untuk melakukan perundingan. Setelah saling bertukar salam Akbar bertanya pada Macnaghten apakah dia ingin tetap melaksanakan pengkhianatan seperti yang direncanakan. Macnaghten dengan gembira menjawab “ya”. Tanpa penjelasan apapun, Akbar mengisyaratkan orang-orangnya untuk menangkap Macnaghten dan memasukkannya ke dalam penjara-dia tidak berminat untuk mengkhianati pemimpin suku lainnya. Dengan kemarahan orang Afghan yang telah terbentuk bertahun-tahun, Macnaghten pun harus menerima nasib yang sangat mengenaskan. Badan dan kepalanya diarak di sepanjang jalanan kota Kabul dan kemudian tubuhnya digantung di pasar.

Segala sesuatu segera berubah. Pasukan Inggris yang masih tersisa dipaksa untuk segera mundur dari Afghanistan, meskipun saat itu sedang musim dingin. Karena yakin Inggris tidak akan pernah mundur jika tidak dipaksa, orang-orang Afghan pun menyerang mereka tanpa ampun. Banyak orang-orang sipil dan tentara Inggris yang tewas di salju.

Pada tanggal 13 Januari 1842, pasukan Inggris di benteng Jalalabad melihat seekor kuda berusaha memasuki gerbang dengan penunggangnya yang sedang sekarat. Dia adalah Dr. William Brydon, satu-satunya orang yang selamat dari kegagalan invasi Inggris di Afghanistan.


September 26, 2008

Operation Haik: Part Two

Tanggal 18 Mei 1958, pesawat B-26 dengan pilot Amerika Allen Pope terbang dari markas pemberontak untuk sebuah misi pengeboman. Pengarahan yang singkat dan jelas diberikan orang CIA yang bertanggung jawab atas misi ini:

“Informasi kita menyebutkan ada iring-iringan kapal pemerintah yang bergerak ke arah kepulauan Morotai di arah utara kepulauan Maluku.”

“Dimana iring-iringan itu sekarang?” tanya Pope.

“Mereka baru saja meninggalkan pulau Ambon. Kemungkinan posisi mereka masih ada di sekitar pelabuhan keberangkatan. Selamat terbang!”

Pesawat telah dilengkapi dengan bahan bakar penuh, bom dan machine gun. Pada saat mencapai perairan Ambon dan berhasil mengintai iring-iringan kapal Indonesia, keberadaan pesawat B-26 justru diketahui tentara Indonesia dan beberapa diantaranya mulai menembaki pesawatnya. Saat Pope akan membalas tembakan tersebut, serangan tembakan yang datang berikutnya justru bertambah banyak dan besar yang berasal dari semua jenis persenjataan. Akibatnya pesawat B-26 mulai mengalami getaran hebat dan Pope mulai kehilangan kontrol atas pesawat dan berusaha untuk kembali ke markas.

P-51 milik pasukan pemerintah hanya membutuhkan sekali tembakan untuk menjatuhkan pesawat B-26 ke laut. Pope dan operator radionya berhasil lompat dari B-26 sebelum pesawat tersebut hancur ke laut. Bagi Pope, CIA dan Presiden Eisenhower, kekhawatiran mereka baru saja dimulai.

Pope dan operator radionya akhirnya ditangkap oleh kapal Indonesia yang menyerang mereka. Ironisnya, dia juga melihat keberhasilan serangan pasukan pemerintah di Morotai, sebuah daerah yang seharusnya dia lindungi dalam misinya. Penangkapan Pope menjadi peristiwa yang sangat memalukan bagi Washington. Pemerintah Amerika sendiri secara resmi menyangkal keterlibatan mereka dalam mendukung gerakan pemberontak di Indonesia. Di Jakarta, Dubes Amerika untuk Indonesia mengatakan pilot warga negara Amerika yang tertangkap tersebut mungkin seorang serdadu sewaan yang membela pemberontak. CIA berharap Pope tidak membawa dokumen yang menidentifikasikan dirinya saat ditangkap. Sebagai seorang pilot senior yang pernah terlibat di Perang Korea dan operasi di Indochina, Pope diyakini CIA mampu mengatasi hal ini. Amerika seperti bermain api dalam hal ini, yang dapat menyulut Perang Dunia III seperti yang diperingatkan Sukarno.

Tetapi harapan itu sia-sia, karena saat penangkapan Pope, Indonesia menemukan kartu identitas US Air Force dan Civil Air Transport (CAT) dan juga kontraknya untuk Operasi Haik beserta 2 atau 3 dokumen lainnya yang tak kalah penting. Hubungan Pope dengan US Air Force dan lebih serius lagi dengan CAT membuat Indonesia meyakini adanya keterlibatan CIA. Prosedur CIA sendiri sangat tegas untuk tidak akan mengakui dokumen-dokumen yang dibawa oleh Pope. Karena status sebagai seorang pilot dengan misi dari pemerintah Amerika tidak dapat dijadikan sebagai subjek untuk negoisasi, Pope yang diperankan sebagai serdadu bayaran pun terancam dieksekusi.

Sukarno menuntut permintaan maaf Amerika. Dia pun memanfaatkan Pope untuk mempermainkan pemerintah Amerika yang masih tetap tertutup. Washington secara menyedihkan membiarkan dirinya dimanipulasi dan beberapa hari kemudian Operasi Haik secara tiba-tiba dihentikan. Amerika juga mencabut embargo yang pernah mereka jatuhkan ke Indonesia. Mulai bulan Agustus 1958, pemerintah Amerika mulai mengirimkan peratalatan perang senilai jutaan dolar ke pemerintah Indonesia. Peristiwa ini meruntuhkan semangat dan kepercayaan diri pemberontak di Indonesia.

Pope kemudian diadili di pengadilan militer Indonesia dan tetap berusaha menjadi seorang serdadu bayaran. Pope diadili dengan tuduhan melaksanakan 6 misi pengeboman untuk pemberontak, membunuh 23 orang Indonesia termasuk 6 orang sipil. Tetapi Pope membantah dan menyatakan hanya melaksanakan 1 misi pengeboman yaitu saat pesawatnya ditembak jatuh. Penerbangan yang lain menurut penjelasan Pope hanya merupakan misi pengintaian.

Pope tetap menyatakan tidak bersalah tetapi pengadilan militer memutuskan Pope bersalah dan dihukum mati. Meskipun Indonesia tidak pernah melaksanakan eksekusi hukuman mati tetapi baik Washington maupun markas CIA sangat perhatian dengan kemungkinan itu. Setelah Pope dipenjara, CIA menyiapkan sebuah tim yang dilatih di Philipina untuk melarikan Pope dengan menggunakan sistem Fulton, sebuah strategi penjemputan orang di darat menggunakan balon helium dan pesawat, yang diciptakan oleh Robert Fulton. Tapi strategi ini masih menjadi perdebatan di antara mereka karena risiko yang ada. Akhirnya operasi pembebasan Pope dari penjara tidak pernah direalisasikan setelah seorang pilot yang ahli dalam sistem Fulton terbunuh dalam sebuah operasi di Laos.

Akhirnya Pope dibebaskan pada tahun 1962 setelah Kennedy terpilih sebagai Presiden Amerika dan membawa hubungan baik antara Indonesia dan Amerika. Washington tetap melanjutkan untuk membayar permintaan maafnya dengan mengirimkan 37.000 ton beras dan 4 pesawat pengangkut Hercules C-130, yang pada masa itu merupakan pesawat transportasi paling modern yang dimiliki US Air Force.

Ray Cline, mantan kepala unit CIA di Taiwan dan salah satu orang yang bertanggung jawab atas Operasi Haik berkomentar soal ini, “Masalah dari operasi bawah tanah adalah apabila ditemukan informasi yang menguak adanya keterlibatan CIA, maka akan membuat pemerintah Amerika mengubah perilakunya dengan menghentikan seluruh operasi”.

Operation Haik: Part One

Karena berpikir Sukarno pro komunis, Amerika pernah mendukung pemberontakan beberapa kolonel militer di Sumatera dan Sulawesi. Apalagi pemicu pemberontakan ini karena para kolonel tersebut tidak puas dengan sikap pemerintah terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI). Amerika sepertinya lupa kalau Sukarno pernah memerintahkan penangkapan anggota PKI saat pecah peristiwa Madiun 1948. Tetapi ide Sukarno tentang “third force”, negara non blok yang tidak memihak pada salah satu kekuatan di era Perang Dingin, membuat Amerika mulai tidak menyukai Sukarno.

Bulan Nopember 1957, Eisenhower memerintahkan CIA untuk melaksanakan Operasi Haik dengan tujuan utama menjatuhkan Sukarno. Eisenhower berharap untuk mengulangi keberhasilan Operasi Success 4 tahun lalu yang berhasil mengusir Presiden Guatemala Jacobo Arbenz karena alasan yang hampir sama. CIA memulai Operasi Haik dengan memasok persenjataan ke para pemberontak. Strategi yang sangat imajinatif dari CIA adalah dengan membuat dan menyalurkan sebuah film berbau pornografi yang dikaitkan dengan Sukarno untuk mendiskreditkan namanya. Strategi ini kurang berhasil dan akhirnya mereka kembali ke metode tradisional dan mulai menyusun rencana intervensi militer.

Beberapa markas dibangun di Philipina untuk melatih para pemimpin pemberontak. Ribuan gerilyawan dilatih sebelum kemudian dikirim untuk bertempur di beberapa wilayah di Indonesia. Tetapi Amerika tetap tidak terlibat secara langsung dalam pertempuran. Situasi mulai berubah di tahun 1958 ketika mereka memutuskan untuk menyediakan dukungan dari udara secara langsung ke pemberontak.

CIA memilih 3 pesawat tua bekas Perang Dunia II tipe pengebom B-26 dari lusinan pesawat yang dikandangkan di pangkalan udara Amerika di Clark, Philipina. Pesawat-pesawat tua tersebut segera dikondisikan kembali agar bisa terbang dengan layak dan dilengkapi dengan 12.7 mm machine gun yang diletakkan di moncong dan sayap pesawat. Tanda sebagai pesawat Amerika dihilangkan dan seluruh pesawat dicat hitam. Selain itu serial number dari part mesin pesawat juga dihilangkan untuk menanggalkan identitas sebagai pesawat Amerika.

Pada bulan Maret 1958. 3 pesawat Mustang F-51D yang dipinjam dari Angkatan Udara Philipina bergabung dengan 3 pesawat B-26. Seperti juga B-26, semua hal yang bisa mengidentifikasi asal pesawat dihilangkan, termasuk cat hitam di seluruh tubuh pesawat.

Hanya sedikit orang berpengalaman yang bisa direkrut CIA untuk menerbangkan CIA sedangkan orang Indonesia yang berpartisipasi berperan sebagai co-pilot dan operator radio. Karena alasan inilah CIA terpaksa menggunakan 6 pilot Amerika dari angkatan udara. Orang-orang yang direkrut semuanya mantan CAT yang pernah ikut ambil bagian dalam operasi di Taiwan. Untuk menambah kekuatan CIA juga merekrut beberapa pilot dari Eropa Timur, terutama dari Polandia. Sebagian besar dari orang-orang ini pernah ikut dalam operasi CIA di Yunani.

Misi pertama B-26 dilakukan di pagi hari tanggal 13 April 1958 ketika satu pesawatnya berangkat dari markas Mapengat dan menyerang pangkalan udara Makassar. Tanggal 17 April 1958, pesawat B-26 lainnya menyerang pangkalan minyak di Balikpapan yang menyebabkan hancurnya beberapa kilang minyak dan merusak C-47 milik Royal Dutch Shell. Beberapa serangan berikutnya lebih banyak dilakukan di pulau Sulawesi dan pulau-pulau kecil disekitarnya. Serangan-serangan ini telah menumbuhkan moral semangat para pemberontakan.

Pada tanggal 18 April 1958, setelah penyerangan di Balikpapan, pemerintah Indonesia melancarkan operasi menumpas pemberontak di Sumatera. Operasi yang didukung pasukan terjun payung dan tank-tank amphibi ini berjalan sukses. Hal ini menyebabkan banyak pemberontak melarikan diri ke Sulawesi. Di waktu yang sama, CIA sedang menyiapkan 3 pesawat pengebom yang dilengkapi dengan machine gun di moncong pesawat bukan di sayap. Seluruh badan pesawat juga disempurnakan dengan sentuhan metalik kecuali di pod mesin pesawat yang dicat hitam.

Kekalahan yang diderita pemberontak ini membuat CIA meningkatkan bantuan udaranya. The Mustangs yang telah disiapkan di Philipina diterbangkan ke Sulawesi pada akhir April 1958. Beberapa hari kemudian mereka telah menyerang pangkalan udara di Manado. Tetapi CIA tidak menyadari bahwa langkah awal dari Operasi Haik ini dikemudian hari akan berubah cepat menjadi hal yang sia-sia dengan tertangkapnya pilot B-26, Allen Pope seorang warganegara Amerika.

September 25, 2008

D-Day: Behind The Scene

The Misinterpreters D-Day, 1944

Inti dari cerita The Misinterpreters, D-Day, 1944 menggambarkan keberhasilan intelijen pasukan Sekutu dengan operasi pengelabuan terbesar sepanjang sejarah untuk mendukung rencana pendaratan tentara Sekutu di Normandia. Operasi pengelabuan ini bertujuan membuat bingung intelijen Jerman dengan membanjiri mereka dengan banyaknya informasi yang sebagian besar menyesatkan untuk mengalihkan perhatian pasukan Jerman dari wilayah Normandia tempat pendaratan tentara Sekutu dan menyebarkan kekuatan pasukan Jerman ke beberapa negara Eropa.

Cerita diawali dari informasi penting yang diterima Kolonel Baron Alexis von Roenne, Komandan FHW (Divisi Angkatan Darat Jerman di Eropa Barat) mengenai rencana kedatangan Jenderal Eisenhower ke Inggris. Informasi itu sendiri sebenarnya datang dari Agen Tate yang sebenarnya merupakan agen ganda MI5. Pasukan Sekutu sendiri sebenarnya telah merencanakan tahun 1944 sebagai tahun Second Front untuk membebaskan kawasan Eropa Barat dari tangan Jerman. Operasi untuk membebaskan Eropa Barat ini dinamakan Operasi Overlord dengan serangan pertama dilaksanakan melalui pendaratan di Normandia atau D-Day.

Baik Jenderal Gerd von Rundstedt maupun Jenderal Erwin Rommel, dua pimpinan Wehrmacht (nama angkatan perang Jerman) sebenarnya telah menyadari bahaya invasi pasukan Sekutu ke Eropa Barat. Hanya saja yang menjadi pertanyaan mereka adalah dimana pasukan Sekutu akan menyerang, sehingga intelijen Jerman pun harus mencari informasi untuk menjawab beberapa pertanyaan intelijen: Akankah pasukan Sekutu menyerang? Jika benar, Dimana? Kapan? dan Bagaimana dengan Kekuatannya?

Untuk mengantisipasi pergerakan dinas intelijen Jerman sekaligus mendukung Operasi Overlord, pasukan Sekutu membentuk sebuah kelompok unik, the Allied Deception Staff dengan nama samaran the London Controlling Section (LCS) yang dipimpin Kolonel John Bevan. Tujuan dari organisasi ini adalah untuk mengelabui dan membingungkan the German High Command dan Adolf Hitler sendiri, untuk mendukung pergerakan pasukan Sekutu menjelang D-Day. Dengan mengetahui sistem intelijen Jerman, LSC memberi dinas intelijen Jerman banyak sekali data atau informasi yang sebagian besar merupakan tipuan, rekayasa dan menyesatkan.

LCS mempunyai jaringan yang sangat kuat dan dipercaya oleh Komandan Sekutu dan Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris. Kepercayaan ini sangat penting karena LCS dengan efektif mampu mengkoordinasi dan mengarahkan usaha intelijen Sekutu dan dinas keamanannya untuk menyerang sistem peringatan dan indikator bahaya yang dimiliki Jerman.

Operasi pengelabuan yang dilakukan LCS dilakukan dengan nama samaran Bodyguard. Dua tujuan utama dari Bodguard: Pertama, memperlemah pasukan Jerman dengan membuat Hitler menyebar tentara dan pasukan pentingnya ke seluruh Eropa, dari Norwegia sampai Balkan ; Kedua, menunda reaksi Jerman selama mungkin terhadap serangan pasukan Sekutu dengan meyakinkan ahli strategi Jerman bahwa pendaratan pertama di Normandia hanyalah gerakan pura-pura.

LCS menggunakan semua saluran intelijen untuk untuk memasok intelijen Jerman sebanyak mungkin informasi berharga yang mereka inginkan, dari human intelligence (humint), signal intelligence (sigint) dan imagery intelligence (imint).

Dengan humint, LCS menggunakan strategi penggunaan agen ganda dari Double Cross Commitee, sebuah jaringan agen ganda milik MI5 (dinas intelijen Inggris) yang dipimpin Sir John Masterman. LCS juga menggunakan para jenderal dari pihak Jerman untuk lebih meyakinkan informasi mereka kepada intelijen Jerman, termasuk melalui Laksamana Wilhelm Canaris yang merupakan pimpinan Abwehr, biro intelijen militer Jerman.

Dengan sigint, LCS menggunakan Ultra, operasi pemecahan dan pembajakan Enigma, sebuah kode pesan rahasia yang dimiliki Jerman. Ultra dapat menangkap Enigma sebelum sampai ke tangan Jerman dan kemudian mengubahnya menjadi informasi yang mengubah penilaian Jerman mengenai D-Day.

Dari Operasi Fortitude North, LCS merekayasa keberadaan British 4th Army pimpinan Letjen Sir Andrew Thorne di Skotlandia dengan mengirimkan sinyal-sinyal transmisi palsu mengenai kesibukan pasukan tersebut melalui radio untuk ditangkap Y Service, dinas intelijen sinyal milik Abwehr. Tujuan dari operasi ini adalah untuk mengalihkan konsentrasi pasukan Jerman ke Skandinavia karena kekhawatiran serangan pasukan Sekutu dari arah Skotlandia.

Dengan imint, LCS menyiapkan bahan fotografi bagi intelijen Jerman berupa depot minyak palsu beserta pipa dan gudang tank di Dover, wilayah tenggara Inggris untuk menggambarkan kegiatan dan pergerakan pasukan Sekutu di wilayah tersebut. Informasi ini juga didukung oleh sigint melalui informasi agen gandanya.

Dengan humint, sigint dan imint, LCS juga berhasil meyakinkan Jerman mengenai keberadaan Jenderal George Patton dengan pasukan First United States Army Group (FUSAG) yang diskenariokan akan bergerak dari wilayah tenggara Inggris menuju Pas de Calais. Tujuan dari operasi ini untuk mengalihkan kekuatan pasukan tank panser Jerman ke arah Pas de Calais.

Di pihak Jerman, informasi-informasi yang menyesatkan ini justru digunakan oleh von Roenne sebagai alat untuk bersaing dengan orang-orang the Sicherheits Dienst atau SD, sebuah dinas keamanan milik Partai Nazi, dalam usaha berebut pengaruh di the Reich Security and Intelligence Service, badan intelijen baru gabungan SD dan Abwehr yang dipimpin Jenderal Walter Schellenberg. Dalam prakteknya, The Amt Mil atau seksi militer dari organisasi intelijen baru tersebut, masih berada di bawah kendali militer.

Von Roenne mengeluarkan ORBAT atau FHW Assessment of The Enemy’s Order of Battle, sebuah analisis dan penilaian intelijen yang dibuat von Roenne mengenai rencana invansi pasukan Sekutu. Analisis dan penafsiran FHW ini diterima Hitler dan dikirim ke semua markas Wehrmacht di Eropa Barat. Von Roenne bahkan kemudian memberikan sebuah rekomendasi bagi operasional militer yang seharusnya tidak dimasukkan dalam sebuah penilaian intelijen.

Akhirnya Jenderal Wilhelm Canaris dan Kolonel Baron Alexis von Roenne dihukum mati oleh Hitler karena kesalahan-kesalahannya. Kesalahan pengkhianatan dan kesalahan terlalu percaya diri kepada sistem yang dimiliki yang bisa mengalahkan keraguannya sendiri serta lupa akan sebuah kebutuhan analisis kritis terhadap data atau informasi intelijen. Keberhasilan pendaratan Normandia bagi Kolonel John Bevan dan LSC merupakan sebuah kesuksesan dari operasi pengelabuan terbesar sepanjang sejarah sebaliknya bagi Canaris dan von Roenne menjadi sebuah bencana besar bagi intelijen Jerman.


Kenapa pihak Sekutu bisa berhasil dalam D-Day, 1944 ? Ada beberapa faktor:

1. Sekutu menggunakan hampir seluruh saluran intelijen untuk mencari informasi sistem dan metode intelijen Jerman sekaligus memasok dan menyediakan informasi yang sangat banyak (sebagian besar menyesatkan) kepada Jerman sehingga menimbulkan kebingungan intelijen Jerman menganalisa informasi dalam situasi “noise” atau overload information.

- Humint dilakukan dengan strategi penggunaan agen ganda untuk mencari informasi sekaligus memasok informasi-informasi palsu kepada Jerman. Agen ganda ini terdiri dari agen-agen MI5 dan para jenderal Jerman yang membelot ke pasukan Sekutu.

- Sigint dilakukan dengan Ultra untuk memecahkan dan membajak kode pesan rahasia Jerman yang disebut Enigma. Ultra dapat menangkap Enigma sebelum sampai ke tangan Jerman dan kemudian mengubahnya menjadi informasi yang mengubah penilaian Jerman mengenai D-Day.

- Imint dilakukan dengan operasi pengintaian udara di Skandinavia sekaligus menyiapkan bahan fotografi bagi intelijen Jerman diantaranya depot minyak palsu beserta pipa dan gudang tank di wilayah tenggara Inggris untuk menggambarkan kegiatan dan pergerakan pasukan Sekutu (sebenarnya pura-pura) di wilayah itu.

2. Keberhasilan Sekutu melakukan Counter Intelligence dengan mampu mengidentifikasi agen-agen intelijen Jerman (Abwehr) yang berada di wilayah Inggris Raya dan kemudian mengendalikan mereka untuk mendapatkan informasi lebih dalam mengenai sistem intelijen Jerman sekaligus mengirimkan pesan-pesan menyesatkan kepada intelijen Jerman.


Kenapa pihak Jerman gagal mengantisipasi D-Day, 1944? Ada beberapa faktor:

1. Terlalu percaya diri karena pengalaman kemenangan perang di Dieppe 1944.

2. Interpretasi subyektif, Jerman salah menafsirkan sinyal transmisi yang diterima sebagai pergerakan British 4th Army di Skotlandia. Jerman juga salah menafsirkan fotografi depot minyak, pipa dan gudang tank sebagai kegiatan dan pergerakan pasukan FUSAG di tenggara Inggris menuju Pas de Calais.

3. Intelijen Jerman terlalu fokus pada pertanyaan “Will Allies invade? If so, when, where and in what strenght?”. Mereka mengabaikan penilaian dasar intelijen saat menerima informasi “Is it true? Is it credible? Is it confirmed by other sources?”

4. Bias cognitif, tindakan yang dilakukan Kolonel Baron Alexis von Roenne untuk bersaing dengan anggota SD berakibat fatal. Informasi menyesatkan dari Sekutu dijadikan dasar penilaian intelijennya untuk mendapatkan perhatian Adolf Hitler.

5. Konservatisme, intelijen Jerman menolak informasi pendaratan Normandia sebagai penyerangan Sekutu yang sebenarnya karena masih mempercayai informasi sebelumnya bahwa invansi Sekutu sebenarnya terjadi di Pas de Calais dan pendaratan Normandia hanyalan gerakan pura-pura pasukan Sekutu.

6. Desepsi lawan, Jerman tertipu oleh serangkaian operasi pengelabuan yang dilakukan Sekutu, seperti the decoy attack dalam kasus British 4th Army di Skotlandia, George Patton dan FUSAG di tenggara Inggris atau kamuflase dalam kasus depot minyak dan garasi tank palsu di Dover, Inggris.

7. Bayangan kaca, asumsi Jerman bahwa pasukan Sekutu pasti akan menyerang pelabuhan Eropa Barat di saat cuaca sedang baik, malam hari dan saat air laut pasang.

8. Konflik internal dan Jerman tidak menduga terjadi pengkhianatan dari pihak sendiri.